Home » ARTIKEL » Mengukir di atas batu, jangan mengukir di atas pasir

Mengukir di atas batu, jangan mengukir di atas pasir

Oleh Prof. Dr. Thohir Luth, MA

Salah satu kebutuhan spiritual manusia selain agama, juga terpenuhinya kebutuhan aktualisasi diri (self actualisation). Kebutuhan ini diperlukan untuk mendapatkan penghargaan yang patut dari orang lain terhadap diri seseorang. Karena jika tidak, bisa jadi air susu dibalas dengan air tuba atau tidak tahu berterima kasih pada orang yang berjasa padanya, atau juga kerbau punya susu, sapi punya nama. Ungkapan-ungkapan diatas mengindikasikan bahwa kita harus belajar untuk berterima kasih pada orang yang pernah berjasa pada kita walaupun nilainya kecil sekalipun. Atau dalam terminologi agama : “bersyukur” mengandung makna memelihara nikmat pemberian Allah, memanfaatkan pada jalan yang benar dan bertakwa pada Yang Maha Kuasa. Dan kita yang melaksanakan bukti syukur tersebut diatas maka pasti Allah memberikan tambahan nikmat, bila tidak atau kufur maka Allah juga akan memberikan azab yang hina (QS. Ibrahim : 7). Ayat ini memberikan pemahaman dan petunjuk untuk kita bagaimana menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya.

Mengukir diatas batu yang saya maksud adalah berbuat sesuatu yang secara permanen dinikmati dan dirasakan kebaikan/kemanfaatannya oleh sesama. Sehingga kebaikan kita pun dikenang secara abadi, langgeng walaupun yang bersangkutan telah memenuhi ajalnya. Memang, kita tidak boleh mengharapkan imbalan dari penghargaan orang tetapi sekurang-kurangnya kita menjadi terdidik untuk tahu diri dan tahu menempatkan diri. Karenanya kebaikan seseorang tidak boleh meniadakan penghargaan kita kepada mereka. Ini perlu kita sadari supaya tidak mendzalimi sesama termasuk orang yang pernah berjasa pada kita. Dan menurut hemat saya hal seperti ini perlu kita jaga bersama dalam rangka mewujudkan persaudaraan diantara kita.

Adapun jangan melukis diatas pasir itu dimaksudkan jangan hanya sekedar berwacana tanpa bukti. Artinya kita jangan hanya jago membuat pernyataan tetapi tidak jago dalam membuat kenyataan. Sehingga orang lain pun bosan mengenang keberadaan kita, bahkan bukan mustahil mencibir dan melupakan kita dalam kehidupan mereka. Hal-hal semacam ini secara sosiologis terasa ada di kasat mata kita, bahkan bukan tidak mungkin kita pun merasakan sendiri juga. Oleh karena itu bersikap sekedar menonjolkan wacana tanpa bukti itu sama dengan mengukir diatas pasir, sebentar saja bertahan dan hanya dihapus dengan angin sepoi-sepoi.

Membuat amal nyata yang bisa dirasakan manfaatnya pada kenyataannya tidak semua orang bisa. Ini karena tidak semua orang tertarik dengan tanaman kebajikan jangka panjang. Tetapi kita bisa tertarik melakukan itu, maka disitulah letaknya satu kemuliaan dan kebahagiaan bersama. Kita perlu melakukan itu sekarang juga karena akan sangat bermanfaat buat sesama, dan ini adalah kesempatan emas bagi kita juga. Apa yang terjadi ke depan diri kita tidak ada yang bisa memprediksinya. Buat kita adalah menyongsong hidup dan masa depan dengan mengukir amal nyata untuk sesama itu lebih penting daripada sekedar berwacana. Karenanya mengukir diatas pasir itu cukup ada dalam mimpi saja. Yang ada dalam kenyataan adalah mengukir diatas batu, syukur mengukir diatas batu mulia. Maka berbahagialah orang yang mengukir diatas batu termasuk diatas batu mulia. Inilah tugas kita sejatinya sebagai hamba Allah atas sesama hamba Allah yang lain. Dengan demikian kita pun berhak memperoleh Rahman dan Rahimnya Allah SWT. Insya Allah.

ARTIKEL

No Comments to “Mengukir di atas batu, jangan mengukir di atas pasir”

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.